Gus Qoyyum: Idul Fitri itu Hadiah. Mengapa?

Setelah liburan Idul Fitri, di awal masuk kerja pada tanggal 3 Juli 2017, UINSA Surabaya langsung membukanya dengan acara halal bi  halal. Dalam acara tersebut, KH. Abdul Qoyyum Mansur, Pengasuh PP An-Nur Lasem Rembang Jawa Tengah, memberikan ceramahnya. Intisarinya sebagai berikut.

Para malaikat menyebut Idul Fitri sebagai Hari Hadiah atau yaumul jaizah bagi mereka yang telah berpuasa. Bukan hanya berupa kesucian jiwa, tetapi juga kesehatan raga. Sebab, puasa dapat membunuh mikroba yang merusak tubuh manusia. Demikian, kata Ibnu Sina.

Secara lughawi, puasa itu berarti diam. Bukan saja diam dengan tidak minum dan makan. Namun juga tidak menggunjing dan menebarkan kebencian. Bahkan bagi Madzhab Hanafi, puasa akan menjadi batal jika bicaranya hanya bikin sakit hati.

Puasa itu setidaknya bergantung pada peran tiga organ penting di badan. Ia adalah perut, mulut dan lidah. Patologi ketiganya sangat menentukan bagaimana kehidupan manusia nanti. Perut disebutkan al-Quran sebanyak 9 kali, mulut 13kali dan lidah 15 kali.

Patologi perut. Itu terjadi karena di antaranya berlebihan, kurang berbagi atau bahkan makan dengan yang haram. Misalnya, makan harta anak yatim (QS. An-Nisa’; 10). Sungguh, api neraka telah masuk ke perut mereka sehingga rentan sakit, bahkan mati.

Patologi mulut. Mulut terbanyak rentan terserang sakit, akibat tiga
hal. 
Satu, mulutnya suka dusta. Yaquuluna bi afwahihim ma laysa fi qulubihim (QS Ali Imran: 167). 
Dua, mulutnya jadi corong kebencian. Qad badatil baghdou min afwahihim. (QS. Ali Imran: 118).

Mari kita teladani, bagaimana Syekh Alawi al-Maliki di setiap lebaran justru bersilaturahim kepada para ulama wahabi. Sebaliknya, Syekh Ibnu Taymiyah setiap jumat mengunjungi rumah sakit dan mendoakan pasien, meski mereka bukan saudaranya. Sungguh, itu semua karena menghindari kebencian.

Mari mengaca diri, mengapa para ulama dan kiayi di Jawa lebih memilih Kitab Tafsir Baidhowi untuk diajarkan kepada para santrinya dari pada Tafsir Al-Kasyaf? Ternyata karena penyajian Tafsir Al-Kasyaf Krn cenderung mengajak untuk menyalahkan orang. Sedangkan Tafsir Baidhowi bahasanya lebih santun.

Tiga, mulutnya suka memadamkan cahaya Ilahi. Yuriduuna ayyuthfiuu nuurallaahi biafwahihim (QS. At-Taubah: 32)
Sebagai contoh, sebagai akademisi, jadilah ilmuwan yang menghidupkan cahaya Allah. Caranya? benarkan syariat agama dulu, baru dicari hikmahnya sesuai dengan domain keilmuan yang dikuasai. Jadi, perkembangan ilmu pengetahuan itu untuk menguatkan kebenaran agama. 

Patologi lidah, yakni mulutnya sering menyebabkan permusuhan. Wa yabsuthuu ilaikum aydiyahum wa alsinatahum (QS. Al-Mumtahanah: 2)

Bagaimana mengobatinya? Dengan puasa! Karena puasa menjaga naluri, nurani dan nalar.

Pertama, puasa menjaga naluri. Manusia nalurinya ingin yang enak-enak. Anda boleh membayangkan diri enaknya menjadi gubernur. Tapi ingat, banyak membayangkan saja itu hanya akan membuat naluri kita menjadi keruh. Maka, berpuasalah, karena akan menjernihkannya. 

Abu Nuaim, dalam kitab Hilyatul Awliya… menceritakan, bagaimana saat Nabi Muhammad saw tak sengaja melihat wanita cantik. Sehingga sebelum terbawa dengan bayangan wanita cantik, Nabi segera pulang ke rumah dan mengumpuli isterinya.

Oleh karena itu, kita kita melihat rumah mewah, mobil mewah, maka segeralah pulang, dan kunjungi rumah masa depan kita, kuburan. Sebab, kuburan akan menghapus bayangan kehidupan hedonism. Walaa tamudanna aynayka ilaa maa matta’naa bihii… (QS. Thaha: 131)

Kedua, puasa itu menjaga nurani. Pernahkan kita membayangkan, bagaimana 300 orang di Chicago bersedia mendonorkan setiap 1 inchi kulitnya pada seorang pasien yang didiagnosis terjangkit kangker kulit parah dan membutuh 145 inchi kulit manusia. Puasa akan meningkatkan kebaikan diri pada sesama yang mungkin belum bisa kita lakukan.

Ketiga, puasa menjaga nalar. Saat seorang da’i berdakwah ke Swedia, sebuah negara yang melegalkan bunuh diri, dia mendapati nama Abdullah (warga Saudi Aabia) yang mendaftarkan diri untuk bunuh diri. Setelah dinasehati, Abdullah diajak ke masjid dan tertidur selama tiga hari. 

Setelah bangun, Abdullah mengaku bahwa dirinya sudah 20 hari tidak bisa tidur. Sehingga dirinya merasa kehilangan kendali dan ingin bunuh diri. Nasehat dan berdiam diri dalam masjid membuatnya tertidur. Puasa membantu kita bernalar yang benar bagaimana seharusnya menjalani kehidupan. 

Mohon maaf, lahir dan batin.
***
Ceramah #halalbihalal UINSA (Surabaya, 3 Juli 2017)
Disarikan oleh Dr. M Thohir Munawar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar